Featured articles

Menyambut Kurikulum 2013 bersama JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu)

Berbagai persiapan dilakukan oleh seluruh sekolah di Indonesia pada umumnya dalam rangka menyambut Kurikulum 2013 yang sebentar lagi akan diterapkan di setiap jenjang pendidikan. Tidak terkecuali para sekolah swasta, terutama yang tergabung di dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu. Selasa, 29 April 2014, seluruh SIT yang tergabung dalam JSIT Kota dan Kabupaten berkumpul dan bersilaturrahim di SMAIT Ummul Quro guna menekankan kembali nilai-nilai kekhasan SIT dalam pembelajaran yang sekarang sudah terangkum di dalam Kurikulum 2013. SD Kreativa sendiri sejak berdirinya adalah merupakan salah satu anggota dari JSIT.

JSIT sendiri memiliki standart mutu yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran. Bahkan di dalam sambutannya, Bpk Sukro Muhab, Ketua JSIT Indonesia menyatakan bahwa sebelum penerapan Kurikulum 2013 yang menekankan keseimbangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, sekolah-sekolah Islam terpadu sudah lebih dulu menerapkan itu. `’Sehingga, guru-guru sekolah Islam juga sudah tidak kaget dengan mekanisme pembelajaran, penilaian, dan laporan hasil belajar (rapor) yang memuat deskripsi perkembangan belajar para siswa.”

Standar mutu SIT, kata dia, juga sinkron dengan Kurikulum 2013. Sebab, siswa dibimbing untuk membangun sikap positif. Proses pembelajaran Scientific Learning yang dibingkai oleh nilai-nilai Islam telah diterapkan oleh para Sekolah Islam Terpadu yang tergabung di dalam JSIT. Di sekolah Islam, guru membangun sikap anak-anak dengan nilai Islam yang dijabarkan dalam semua pembelajaran, termasuk penguatan akidah. “Jadi, guru apa pun, sejatinya mereka adalah guru agama,” .

Pendapat ini diperkuat oleh pernyataan Wamen Kemendikbud bahwa “Kurikulum 2013 merefleksikan apa yang sudah dilakukan sekolah Islam terpadu yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT),” ujar Musliar Kasim saat membuka seminar pendidikan bertema “Peningkatan Mutu SIT dan Sinkronisasi Kurikulum 2013 untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045″ pada acara Milad ke-10 JSIT di Jakarta, Sabtu (1/2).

Kegiatan silaturahim ini sekaligus mengukuhkan kepengurusan JSIT Tingkat Kabupaten Bogor.

Ketua JSIT Indonesia

Posted in Kegiatan SD Kreativa, Uncategorized | Leave a comment

Hari Bumi di SD Kreativa

Pembelajaran Kontekstual adalah sebuah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

Pembelajaran Kontekstual ini  merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya  dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Menyambut hari Bumi 22 April 2014 ini, SD Kreativa mencoba untuk kembali membelajarkan para siswanya sebagai anggota masyarakat yang terlibat dalam perilaku-perilaku menjaga bumi. Banyak kegiatan yang dilakukan di sini, bukan hanya melibatkan siswa di dalam sekolah, namun juga para siswa disebar untuk menyampaikan langsung pesan-pesan “Selamatkan Bumi” kepada 8 lembaga dan lingkungan masyarakat sekitar.

Berbagai kegiatan tersebut disambut  antusias oleh para siswa. Untuk siswa kelas 1 dan 2, mereka mengikuti pembelejaran melalui “Movie Learning”..Tidak tanggung-tanggung, mereka mendapatkan informasi mengenai Global Warming, Kerusakan Lingkungan serta Proses Pelestarian Air Bersih…Movie learningpun dilanjutkan dengan acara diskusi. Setelah itu, mereka pun diajak untuk membersihkan lingkungan dalam sekolah.

Untuk kelas 3 dan 4, memiliki kegiatan yang tak kalah seru. Karena ada 48 siswa yang akan mempresentasikan pesan-pesan “Selamatkan Bumi”, yang  dikirimkan ke 8 lembaga., yaitu SDN Sukadami 1, SDN Sukadamai 2, SDN Sukadamai 3 , SDN Situpete, Pesantren Hilal, PAUD, serta SMAN 2 Bogor. Sementara 48 siswa lainnya disebar ke lingkungan masyarakat sekitar sekolah untuk menyampaikan pesan-pesan Selamatkan Bumi.  Sambutan yang luar biasa dari setiap lembaga , membuat para siswa semakin bahagia. Sambil membawa 3 poster besar serta berbagai hasil panen sayuran organik sekolah, mereka pun terlihat percaya diri pada saat penyampaian pesan tersebut di hadapan para siswa lainnya.

Untuk kelas 5, kegiatan yang dilakukan adalah Pelatihan membuat  pupuk dari kulit telur dan juga TERARIUM. Kali ini, narasumber kami adalah Bapak Ahmad, dari SMA YPHB Plus. SD Kreativa sendiri adalah Sekolah Adiwiyata Binaan dari SMA YPHB Plus sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Kegiatan pelatihan ini pun berlangsung seru, karena siswa sangat bersemangat untuk membuat pupuk serta membuat terarium.

Alhamdulillah, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Para siswa telah menyelesaikan semua kegiatannya. Mereka pun berkumpul lagi di masing-masing kelas. Semua masih asyik bertukar cerita dengan teman-temannya tentang kegiatan Hari Bumi ini. Semoga keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran ini memiliki makna yang besar di dalam diri masing-masing dan tentu saja mampu merubah perilaku menjadi lebih baik dan bijak  terutama dalam mensikapi “Bumi” yang sudah semakin tua…

Yuk Sambut Hari Bumi

Presentasi

 

hari bumi 3

Posted in Kegiatan SD Kreativa, Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

MABIT; Mengasah Ruhani, Menguatkan Kepribadian

Secara bahasa, mabit berarti bermalam. Istilah yang sangat masyhur kita dapati pada salah satu rangkaian ibadah haji yaitu mabit di Mina.  Dalam dunia dakwah dan pendidikan, mabit biasa dijadikan sarana untuk membina ruhiyah, melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah (khususnya shalat tahajjud, dzikir, tadabbur dan tafakkur).

Sebenarnya bagi siswa SD Kreativa, terutama siswa kelas empat dan lima, mabit bukanlah sesuatu yang baru.  Sejak kelas satu mereka sudah dikenalkan dengan kegiatan yang satu ini.  Namun mabit yang mereka ikuti pada tangal 21 Maret 2014 kemarin sedikit berbeda nuansanya.  Kalau selama ini mabit diselenggarakan di sekolah, kali ini mabit diselenggarakan di luar sekolah, tepatnya di Masjid Roosniah Al Ahmad yang terletak di Perumahan Bogor Nirwana Residence.  Dipilihnya masjid ini bukan tanpa tujuan. Masjid ini dirasa cukup representataif karena selain tenang, bersih, besar, masjid ini sudah terbiasa digunakan sebagai tempat mabit dan I’tikaf oleh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Siswa diajak untuk merasakan bagaimana rasanya beribadah di tempat yang bersih dan nyaman.

Menanamkan Leadership Melalui Kisah Al Fatih

Diantara materi yang berkesan bagi siswa pada mabit di Masjid Roosniah Al Ahmad ini adalah penyajian kisah Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel.  Kisah ini sengaja diangkat karena sarat dengan muatan kepemimpinan.

 Penetapan Misi Pribadi

Sebagaimana kita ketahui bahwa kabar gembira (bisyarah) tentang penaklukan Konstantinopel pernah disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat, “Kalian pasti akan menaklukkan Konstantinopel.  Sebaik-baik panglima adalah panglimanya (pada saat itu) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya (pada saat itu)” (HR Ahmad).

Kepastian kabar dari Rasulullah inilah yang kemudian dijadikan misi hidup keluarga Sultan Murad (masa kekhalifahan Abbasiyah).  Sejak ayah dari Sultan Murad yang beranama Sultan Beyazid memerintah (1396 M), Sultan Murad I hingga Sultan Murad II (Sultan Muhammad Al Fatih), menaklukkan Konstantinopel telah dijadikan misi hidup mereka.  Hal ini tidak terlepas dari semangat mereka untuk menjadi “sebaik-baik pemimpin”, julukan yang diberikan Rasulullah kepada mereka yang mampu menaklukkan Konstantinopel.

Kesungguhan dalam Meraih Cita-Cita

Ketelatenan Sultan Murad II – yang terkenal dengan sebutan Muhammad Al Fatih – dalam menjalankan misi hidupnya sungguh patut dicontoh.  Al Fatih tidak sekedar memasang misi hidup yang tinggi dan mulia, tetapi juga merancang perencanaan dan berbagai strategi agar misi hidupnya itu tercapai.  Dia juga tidak meninggalkan faktor ilahiyyah dalam mencapai kemenangannya.

Secara pribadi Al Fatih mempelajari berbagai keilmuan, menghafal Al Quran pada usia 12 tahun, termasuk menguasai 8 bahasa pada usia 16 tahun.  Secara lahiriyah, Sultan Al Fatih membentuk pasukan militer sebanyak 250.000 personil dengan 400 buah kapal perang dan 7.000 diantaranya adalah pasukan khusus yang disebut “inkisaria”.  Beliau juga menyiapkan meriam super besar dengan peluru kaliber 0,7 meter dengan panjang 5,2 meter dan berat sekitar 18 ton.

Namun begitu, usaha lahiriah saja tidak cukup.  Buktinya pada penyerangan pertama (6 – 20 April 1453), Konstantinopel belum berhasil ditaklukkan.  Tetapi bukan lantaran itu kemudian Al Fatih berhenti.  Al Fatih dan pasukannya mencari cara lain untuk menembus benteng Konstantinopel.  Hingga akhirnya mereka sepakat menyerang Konstantinopel dari arah sebelah utara.  Meskipun untuk itu mereka harus memindahkan kapal perang melalui perbukitan Galagata.

Semua usaha itu memakan waktu hingga tanggal 27 Mei 1453, dimana Al Fatih mengumumkan bahwa pada tanggal 29 Mei akan diadakan serangan besar dan sehari sebelumnya, Senin tanggal 28 Mei 1453, semua pasukan diminta untuk berpuasa sunat dan malam harinya melaksanakan sholat tahajud meminta pertolongan kepada Allah.  Dan inilah pembuka kemenangan yang sesungguhnya.

Bersinergi dalam Mencapai Tujuan Bersama?

 Kisah Al Fatih ini juga mengajarkan nilai-nilai kerja sama dalam mencapai tujuan besar.  Tidak seorang pun dari kita bisa mencapai tujuan kita sendirian saja.  Pasti harus melibatkan orang lain, entah itu orang tua, teman, guru, atau yang lainnya.  Dalam kerangka inilah, setiap orang harus bersedia untuk mendengar danmenghargai pendapat orang lain sekaligus berani mengungkapkan ide dan pemikirannya sendiri.

Cukupkah Hanya dengan Mabit

Tentu tidak cukup.  Ada sebuah postulat sederhana yang disampaikan Ust. Aris Atmajaya dalam masalah pendidikan, yakni “mendidik tidak bisa mendadak karena yang mendadak itu tidak bisa untuk mendidik”.

Seperti halnya Al Fatih, orang tua dan guru harus mempunyai kejelasan tujuan akhir dalam mendidik anak.  Setelah itu barulah orang tua dan guru menetapkan serangkaian strategi dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Dalam konteks bersungguh-sungguh ini konsep fleksibilitas diperlukan.  Fleksibilitas adalah mencari cara alternatif pada saat cara lama tidak bisa diandalkan lagi.  Terakhir, tidak bisa mendidik anak hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri saja, atau sebaliknya mengandalkan orang lain saja.  Harus bersinergi.

Mendengarkan Kisah Sejarah Islam

Posted in Kegiatan SD Kreativa | Tagged , | Leave a comment